Showing posts with label Artikel Lain. Show all posts
Showing posts with label Artikel Lain. Show all posts

Monday, February 22, 2016

Mengenal Cara Kerja Test Pack

Test pack merupakan salah satu alat yang wajib dimiliki saat sedang menunggu-nunggu kehamilan. Cara menggunakannya pun mudah. Biasanya, alat ini dipakai ketika seorang wanita menunjukkan tanda-tanda kehamilan, seperti terlambat datang bulan atau mual di pagi hari.  

Test pack bekerja dengan mendeteksi hormon hCG (human chorionic gonadotropin) yang ada di dalam urine. Hormon yang juga dikenal sebagai hormon kehamilan ini hanya terbentuk ketika sel telur yang sudah dibuahi menempel di dinding rahim.

Jumlah hormon ini akan meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan dan mencapai puncaknya pada hari ke-60 hingga 90.  

Hasil yang dikeluarkan test pack cukup akurat. Sebagian besar alat tes kehamilan yang dijual di pasaran mengklaim tingkat keakuratan mencapai 99 persen dan bisa dilakukan 1 hari setelah terlambat haid. Namun, setiap wanita memiliki masa ovulasi yang berbeda-beda.  

Waktu penempelan sel telur yang sudah dibuahi (zigot) ke rahim juga berbeda-beda. Jadi, untuk melakukan uji kehamilan dengan test pack, disarankan untuk menunggu hingga seminggu setelah mengalami terlambat haid.  

Pada waktu tersebut, kadar hCG sudah lebih banyak, sehingga lebih mudah terdeteksi oleh test pack.  

Namun, perlu Anda ingat bahwa tingkat keakuratan alat ini tidak mencapai 100 persen. Ketidakakuratan test pack bisa terjadi karena Anda tidak menggunakannya dengan benar atau terlalu dini melakukan pengecekan. Bila Anda ragu, berkonsultasilah dengan dokter.


Sumber: mother and baby, MSN.Com

Wednesday, August 5, 2015

Hamil dan Konsumsi Pil KB Turunkan Risiko Kanker Ovarium


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa sekitar 43 persen kanker dapat dicegah. Dan sepertiganya dapat disembuhkan bila dijumpai secara dini. Hanya saja, untuk kanker ovarium, dua pertiga kasus justru dijumpai pada stadium lanjut.  Bila dijumpai dalam stadium lanjut, tingkat harapan hidupnya menjadi rendah.

Di Amerika Serikat, kanker ovarium menjadi penyebab kematian utama pada kanker ginekologi di Amerika Serikat. Angka kematian ini lebih besar dibandingkan kanker serviks. Hal tersebut disampaikan dr. Sedya Dwisangka, M.Epid., Kepala Seksi Standarisasi Subdit Kanker, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan lingkungan, Kementerian Kesehatan, dalam peluncuran kampanye edukasi tentang kanker ovarium di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Pada awalnya, kanker tersebut tidak memberikan gejala. Karenanya, banyak pasien datang dengan kondisi lanjut. Mengutip data dari Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI), Januari-Desember 2014, dari 375 kasus yang ada, 60 persen ditemukan pada stadium lanjut.

Bila diketahui dalam stadium lanjut, "5 years survival rate untuk kanker ovarium stadium kurang dari 20 persen," terang dr. Sedya. Sementara saat kanker ovarium dijumpai pada stadium 1, 5 years survival rate sekitar 70-90 persen. Namun sayangnya, relatif sedikit kanker ovarium yang dijumpai pada stadium dini.

Tidak seperti kanker serviks dan payudara yang dapat dideteksi dini melalui metode IVA (inspeksi visual asam asetat), pap smear, SADARI (pemeriksaan payudara sendiri), maupun SADANIS (pemeriksaan payudara klinis),  metode deteksi dini pada kanker ovarium masih terbilang sulit, bahkan bisa dibilang tidak ada. Karenanya, mengetahui faktor risiko serta simtom yang umum dijumpai pada kanker ovarium perlu dicermati.

Mereka yang tidak pernah hamil, memiliki mutasi genetik yang diturunkan seperti Breast Cancer Gene 1 dan 2 (BRCA1 serta BRCA2), memiliki riwayat kanker ovarium di keluarga, serta pernah mengalami kanker payudara atau kanker kolorektal, dikatakan Prof. Dr. dr. Andrijono, Sp.OG(K), yang ditemui di tempat yang sama, berisiko untuk kanker ovarium.

"Hubungan kanker payudara dan ovarium ini terkait dengan hormon. Sementara tidak hamil, terkait dengan ovulasi," terang Ketua Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI).

Ovulasi ini, lanjut Prof. Andrijono, yang menghubungkan dengan kanker ovarium. Itu sebabnya, saat seorang perempuan hamil, mereka tidak mengalami ovulasi. Begitu juga ketika menggunakan pil KB, ovulasi tidak terjadi sehingga risiko kanker ovarium menurun.  

“Titiknya ada pada ovulasi. Untuk itu, hamil, mengonsumsi pil kontrasepsi, mengikat saluran tuba, mengangkat ovarium pada yang berisiko, dan mengadopsi pola makan rendah lemak menjadi faktor penurun risiko kanker ovarium," jelas Prof. Andrijono.


Sumber: kompas.com

Friday, May 15, 2015

4 Cara unik Wanita Zaman Dahulu Menentukan Kehamilan


Setiap pasangan yang sudah menikah tentu saja mendambakan seorang buah hati untuk hadir didalam kehidupan mereka agar kebahagian mereka semakin sempurna. Nah, pada saat zaman yang sudah maju ini biasanya para wanita menggunakan tetspack atau berkunjung ke dokter untuk mencari tahu apakah mereka sudah hamil atau belum.

Namun bagaimana cara wanita zaman dahulu untuk menentukan mereka hamil atau belum ? ternyata cara yang mereka lakukan untuk mengetahui kehamilan pada wanita cukup membuat kita tercengang karena sedikit unik. Gak percaya ? simak tulisan dibawah ini mengenai 4 cara wanita zaman dahulu untuk menentukan kehamilan.

1. Minum bir
Minum bir sangat tidak dianjurkan untuk ibu-ibu yang sedang hamil karena hal ini bisa menyebabkan janin yang ada di kandungan ibu tersebut keguguran. Namun lain halnya dengan wanita zaman dahulu, dimana pada saat itu cara mereka untuk menentukan kehamilan dengan mengkonsumsi bir.

Caranya, mereka akan minum sedikit bir yang sudah diawetkan selama beberapa tahun. Jika bir tersebut terasa sangat pahit, berarti wanita tersebut sedang hamil.

2. Buang air kecil di atas biji gandum
Cara ini dipakai oleh perempuan mesir yaitu dimana seorang tabib di zaman 4000 tahun sebelum masehi menganjurkan para wanita untuk buang air kecil diatas biji gandum yang diletakan diatas kain untuk mengetahui apakah mereka hamil atau tidak. Nah, untuk menandakan mereka hamil atau tidak maka lihat saja gandum tadi, apabila salah satu biji gandum didalam kain tersebut tumbuh maka wanita itu positif hamil.

3. Menggunakan Bawang Putih
Menggunakan bawang putih untuk menentukan kehamilan bisa dikatakan cukup unik sekaligus aneh bagi orang zaman sekarang, tetapi bagi wanita zaman dahulu mereka menggunakan cara ini untuk menentukan kehamilan. Caranya, wanita tersebut memasukan bawang putih ke dalam kewanitaan mereka sebelum tidur malam dan dibiarkan saja hingga sampai pagi hari.

Setelah pagi maka mereka akan mengecek bau napasnya, apabila napas mereka berbau bawang putih maka wanita tersebut dikatakan tidak hamil tetapi apabila tidak maka wanita tersebut positif hamil.

4. Perubahan wajah
Cara yang terakhir wanita zaman dahulu dalam menentukan kehamilan adalah dengan memperhatikan perubahan pada wajahnya. Pada bulan kedua, mata wanita akan tampak lebih cekung ke dalam, dengan pembuluh darah kecil yang terlihat lebih bengkak di sudut matanya. Selain itu, pipi wanita hamil terlihat lebih merona. Hal ini telah dijelaskan oleh dokter Jacques Guillemeau di abad ke 16.


Sumber: informasikankerservik.blogspot.com

Wednesday, January 7, 2015

Gara-gara Infeksi, Ibu Hamil Lebih Rentan Alami Ketuban Pecah Dini

yayansmum.com

Ketuban pecah dini, sebelum usia kehamilan 37 minggu bisa saja terjadi pada semua ibu hamil. Risikonya pun akan lebih besar terjadi pada ibu yang mengalami infeksi sebelum proses persalinan berlangsung.

"Biasanya ketuban pecah dini bisa terjadi saat ibu sering keputihan hingga terjadi infeksi di vaginanya, anemia, gizi buruk, serta kondisi kehamilan yang tidak optimal. Bisa juga karena kondisi lain yang bisa memicu infeksi seperti gigi bolong, flu, atau infeksi jalan lahir," lanjut kata dr Sita Ayu Arumi dari RS Bunda Jakarta.

Asal air ketuban tidak habis dan kualitasnya masih bagus dan kondisi bayi masih baik, biasanya tidak dilakukan tindakan operasi. Sebaliknya, jika dilihat bayi sudah mengalami infeksi, mau tidak mau harus segera dilakukan operasi sesar.

"Kalau kondisi bayi masih kuat dan ketuban bagus, kita biarkan 4-6 jam ditunggu responsnya apakah akan kontraksi atau tidak. Itu semua juga tergantung kondisi si ibu dan bayinya," kata dr Sita saat berbincang dengan detikHealth dan ditulis pada Kamis (6/11/2014).

Ketika kondisi bayi dirasa sudah memburuk, jantungnya melemah, dan sudah terinfeksi maka tindakan operasi harus segera dilakukan. Senada dengan dr Sita, dr Dwiana Ocviyanti, SpOG (K) menuturkan jika bayi tidak segera dikeluarkan makin lama bisa menyebabkan infeksi pada ibu.

"Bayi pun juga bisa terinfeksi, sebab ketuban kan menghalangi bayi agar tidak terinfeksi bakteri di vagina. Nah, kalau pecah, bakteri di vagina bisa menginfeksi bayi," terang wanita yang akrab disapa dr Ovi ini.

Sementara gejala yang perlu diperhatikan oleh ibu hamil jika ketubannya sudah pecah yaitu air ketuban langsung keluar banyak, jumlahnya sekitar setengah sampai satu liter. Keluarnya cairan seperti urine ini tidak bisa ditahan melalui vagina dan dipastikan melalui tes lakmus.

Penulis : Radian Nyi Sukmasari. sumber: detikHealth


Thursday, December 4, 2014

Penyebab Ketidaksuburan Pada Wanita


Statistik menunjukkan bahwa, satu dari tujuh pasangan harus berurusan dengan masalah kesuburan. Anda bisa dikatakan memiliki masalah kesuburan, jika melakukan hubungan intim secara teratur selama lebih dari 12 bulan, tetapi sia-sia.

Terutama bagi Anda yang sudah berkeluarga, dan ingin mendapatkan momongan. Ketidaksuburan bisa menjadi penyebab rumah tangga goyah. mendidiagnosis ketidaksuburan, kini menjadi penting untuk mengelola masalah kesuburan dan keharmonisan rumah tangga.

Ada dua jenis ketidaksuburan atau infertilitas, yaitu ketidaksuburan primer dan sekunder, tergantung hormon dan kondisi medis dari si wanita. Berikut adalah 10 penyebab umum, ketidaksuburan pada wanita, yang dilansir dari Boldsky:

1. Gangguan Ovulasi. Infertilitas ini paling sering disebabkan oleh masalah yang terjadi dengan pelepasan telur dari ovarium. Sementara beberapa masalah ovulasi dapat menyebabkan seorang wanita berhenti melepaskan telur sama sekali. Masalah ovulasi mungkin akibat dari hal-hal berikut:
  • Sindrom ovarium polikistik: Sebuah kondisi medis yang membuat sulit bagi ovarium untuk menghasilkan telur.
  • Kegagalan ovarium prematur: Ini adalah suatu kondisi di mana ovarium seorang wanita berhenti bekerja, sebelum meginjak usia 40 tahun.
  • Masalah tiroid: Keduanya terlalu aktif dan kurang aktif, sehingga kelenjar tiroid dapat mencegah wanita untuk melepaskan telur.
2 Merokok: Merokok dapat meningkatkan risiko kemandulan pada pria dan wanita. Jika Anda dirawat karena infertilitas, merokok dapat merusak pengobatan. Bahkan jika wanita itu berhasil hamil, risiko yang paling tinggi adalah keguguran.

3 Umur: Saat seorang wanita menginjak 32 tahun, tingkat kesuburannya mulai menurun. Tapi, wanita 35 tahun secara signifikan lebih subur daripada wanita yang berusia 20 tahunan.

4. Konsumsi alkohol: Kehamilan dapat dipengaruhi oleh asupan alkohol yang berlebihan. Tingkat moderat konsumsi alkohol belum terbukti dapat menurunkan tingkat infertilitas. Namun wanita yang telah terbiasa minum minuman beralkohol, akan memiliki infertilitas tinggi. Bahkan jika hamil, dia mungkin melahirkan bayi yang cacat.

5. Obesitas: Di negara-negara industri, wanita gemuk atau obesitas yang memiliki gaya hidup tidak sehat, cenderung tidak subur. Kelebihan berat badan dan memiliki gaya hidup kurang gerak, menjadi faktor utama infertilitas.

6. Gangguan makan: Para perempuan yang sangat kurus atau anoreksia akibat dari gangguan makan, cenderung memiliki risiko lebih tinggi untuk tidak hamil.

7. Vegetarian: Ini masih menjadi perdebatan luas. Menurut ilmu pengetahuan, seseorang yang menjadi vegan, memilikin risiko infertilitas, karena mereka kehilangan nutrisi yang ada dalam makanan non-vegetarian. Nutrisi ini meliputi besi, seng, asam folat, vitamin B-12. Dan mereka yang vegetarian, harus mencoba untuk memasukkan nutrisi ini dalam dietnya, dengan mengonsumsi suplemen. Namun anda harus berkonsultasi dengan dokter, sebelum Anda mengambil suplemen.

8. Kurang olahraga: Gaya hidup yang kurang gerak atau olahraga, dikaitkan dengan kemandulan baik pada laki-laki maupun perempuan. Disarankan bahwa olahraga harus menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.

9. Olahraga berlebihan: Untuk berolahraga dan memiliki gaya hidup sehat, seseorang mungkin akan memaksakan tubuhnya untuk berolahraga. Dan wanita yang berolahraga selama lebih dari 7 jam per hari, mungkin memiliki masalah ovulasi.

10. Stres: ovulasi Wanita dapat dipengaruhi oleh stres. Jadi, cobalah untuk menjaga agar tidak stres sebisa mungkin.



Sumber: http://balabal10.blogspot.com
Image: felisblog.com

Monday, November 10, 2014

Fakta Keputihan Selama Kehamilan


Anda harus mengetahui, mana keputihan yang wajar dan tidak selama kehamilan. Keputihan adalah cairan yang keluar dari vagina. Cairan ini biasanya tidak berbau dan berwarna putih.

Cairan ini berisi sel-sel tua yang luruh dari leher rahim dan dinding rahim. Selain itu, terdapat pula bakteri yang berasal dari vagina.

Keputihan ini tak hanya dialami oleh sebagian perempuan dalam kondisi normal, tetapi selama juga bisa terjadi.

Nah, bila Anda mengalami hal tersebut selama kehamilan, tak perlu khawatir. Kecuali bila keputihan tersebut terdapat bercak darah, barulah segera memeriksakan diri ke dokter.

Berikut beberapa fakta keputihan selama kehamilan yang perlu Anda ketahui.

1. Tanda awal kehamilan Peningkatan cairan vagina atau keputihan adalah salah satu tanda awal kehamilan. Hal ini terjadi karena sekresi hormon estrogen meningkat ketika Anda hamil.

2. Peningkatan aliran darah selama kehamilan, suplai darah ke daerah vagina hampir dua kali lipat. Itulah sebabnya, wajar bila selama kehamilan mengalami jumlah keputihan menjadi berlebih.

3. Masalah hormonal Semakin banyak jumlah hormon dalam tubuh, akan semakin banyak jumlah keputihan yang Anda akan miliki. Selama kehamilan, ada sekresi berlebihan dari hormon seperti estrogen dan progesteron dan itulah sebabnya, Anda memiliki lebih banyak debit keputihan selama kehamilan.

4. Tanda persalinan Jika Anda tiba-tiba memiliki banyak keputihan menjelang akhir kehamilan, maka itu bisa menjadi tanda-tanda persalinan. Periksa keluarnya darah dalam rangka untuk melihat apakah Anda akan melahirkan.

5. Sumbatan lendir Lendir yang menutup rahim selama kehamilan terdiri dari unsur-unsur cairan putih. Namun, terlihat berbeda dengan sumbatan lendir yang tampak seperti putih telur. Ketika leher rahim menipis dan melebar, Anda akan kehilangan sumbatan lendir.

6. Keluarnya darah dari vagina Memiliki debit darah selama implantasi janin adalah umum terjadi. Anda mungkin juga melihat debit darah melesat sebelum persalinan. Namun bila perdarahan terjadi selama kehamilan, itu bukanlah yang normal. Karenanya, Anda harus segera memeriksakan diri ke dokter untuk mencegah risiko terburuk.


Sumber: Suara.com 
Image:tokopengencangpayudara.com

Cara Baca Hasil USG Kehamilan

Saat ibu hamil kontrol rutin untuk memeriksakan kandungan, dokter akan mencetak hasilnya dan memberikannya untuk Anda. Setelah itu do...